Minggu, 07 Agustus 2016

Resensi: Love & Misadventure (Cinta & Kesialan-Kesialan) by Lang Leav




Judul: Love & Misadventure
          (Cinta & Kesialan-Kesialan)
Penulis: Lang Leav
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 hlm.
Harga: Rp38.000,-
Terbit: 2016


Anda suka membaca puisi? Aku termasuk pecinta puisi dan akan dengan senang hati membaca puisi karya siapa pun. Seperti buku puisi yang akan aku bahas berikut ini merupakan hasil rekomendasi dari temanku, judulnya Love and Misadventure (Cinta & Kesialan-Kesialan) karya Lang Leav. Yep, buku puisi ini merupakan buku terjemahan. Kalau novel atau buku fiksi diterjemahkan barangkali sudah biasa, tetapi bagaimana dengan puisi?

Barangkali tidak jauh berbeda, bagian tersulitnya mungkin terletak pada cara penyampaian puisi tersebut (?). Dalam puisi, orang tentu sudah umum dengan rima, diksi, atau bunyi kata yang terdengar sama dan memengaruhi indahnya sebuah puisi, lalu bagaimana jika kata yang digunakan dalam bahasa terjemahan tidak memiliki akhiran bunyi yang sama? Karena menurutku, salah satu yang membuat puisi menarik ialah pilihan katanya dan dua bahasa yang berbeda jelas akan memengaruhi hasil puisi. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sempat terlintas karena aku sendiri tidak tahu apakah ada aturan-aturan tertentu dalam menerjemahkan sebuah buku puisi atau mungkin aturannya sama saja dengan karya fiksi atau nonfiksi?

Kembali ke buku, buku puisi ini dialihbahasakan oleh M. Aan Mansyur dan terbagi dalam tiga bagian, bagian 1 Kesialan-Kesialan, bagian 2 Sirkus Duka Cinta, dan bagian 3 Cinta. Seperti judul buku dan bagian-bagiannya, puisi dalam buku ini bicara mengenai cinta dan segala kisah mengenainya, seperti jatuh cinta, patah hati, atau cinta bertepuk sebelah tangan.

Jika kalian malas membaca buku puisi karena takut tidak memahami isinya, puisi yang dihadirkan dalam buku ini barangkali akan sedikit berbeda. Puisi-puisi dalam buku ini tidak memiliki banyak bait ataupun larik-larik yang panjang dan menurutku banyak di antaranya yang mudah dipahami. Pilihan kata-katanya pun cenderung sederhana, tetapi dengan makna yang mendalam. Seringkali aku menemukan maksud sebenarnya puisi pada larik-larik akhir yang membuatku bisa menyatukan potong-potongan kata di larik sebelumnya menjadi sebuah arti yang utuh. Seperti puisi yang berjudul “Pertanyaan” berikut ini.


….

    “Apakah kaumencintaiku?” Aku bertanya.

Dalam kebimbanganmu kutemukan jawaban. (hal. 65)



Beberapa puisi juga diawali dengan sebuah cerita. Cerita tersebut seperti sebuah pengantar, jembatan kepada pembaca untuk memahami situasi karakter dan mengantarkan kita ke makna puisi di bagian akhir. Aku sendiri tidak tahu harus menyebut bagian “cerita” tersebut dengan nama apa, tapi begitulah anggapanku saat melihat puisi-puisi dengan bentuk seperti ini. Anda bisa menemukannya dalam puisi “Lagu Sedih” (hal. 91), “Mimpi” (hal. 133), “Jiwa” (hal. 143), atau “Malaikat” (hal. 153).


“Lagu Sedih”



Dahulu kala ada seorang laki-laki yang tidak bisa bicara, tapi ia adalah kotak musik yang menampung semua lagu di dunia. Suatu hari ia bertemu seorang gadis yang belum pernahmendengarkan satu nada pun seumur hidup. Laki-laki itu memainkan lagu favoritnya. Ia melihat wajah si gadis berbinar penasaran ketika musik memenuhi langit danlarik-larik sajak yang jadi iriknya menggetarkan hati dengan cara yang tak pernah dirasakan gadis itu sebelumnya.

….

….

………………………………………………………………………………………………..

Kau ingat lagu yang berkumandang pada malam kita bertemu pertama kali?

Tidak, tapi aku ingat semua lagu yang kudengarkan sejak kau pergi.



Apa Anda dapat merasakan kesedihan dalam puisi tersebut? Karena puisi dalam buku ini bercerita tentang cinta yang tidak selalu bahagia, Anda akan mudah menemukan puisi dengan aura kesedihan seperti puisi di atas. Namun, puisi yang menggambarkan indahnya jatuh cinta atau cinta itu sendiri pun ada dalam buku ini. Buatku, mengenai apa pun isi puisi tersebut, puisi-puisi dalam buku ini dapat membangkitkan rasa simpati, kecuali kalau aku tidak mengerti maksud puisi yang sebenarnya (hhe).

Sementara sampulnya, sampul buku asli dan versi Indonesia sama, simple dan tidak berlebihan dengan ilustrasi wajah seorang anak perempuan. Di setiap bagian, pembaca juga akan menemukan ilustrasi dari anak perempuan yang sama yang melengkapi isi buku. Entah kenapa, saat melihatnya, aku merasa ilustrasi itu untuk menggambarkan sang penulis karena Lang Leav juga berponi seperti gambar tersebut (hhe).

Sekian dan selamat membaca, intinya puisi-puisi dalam buku ini cukup menyenangkan dan tidak akan membuat pusing kepala atau mulut cape membaca berulang-ulang karena tidak mengerti artinya. Siap-siap untuk mengenang kisah cinta Anda dalam setap puisi yang ada!

Ini salah satu puisi favoritku “Pengembara” (hal. 49).


Seperti apakah dia?
             Aku pernah diberitahu—
             dia adalah jiwa
             yang murung.

Dia menyerupai
             matahari bagi malam;
             kilau emas sesaat.

Bintang yang redup
             oleh pagi yang mekar;
             cahaya kerlip
             lillin yang ditiup.

Layang-layang kesepian
             melayang tanpa arah dan hilang—
             pernah sekali waktu ada seorang

             membuatnya terbang.


Foto: gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar