Selasa, 30 Agustus 2016

Kicauan: Jung-hwan, Oh Jung-hwan...



Sebenarnya aku tidak berniat menonton drama ini, tapi di minggu-minggu terakhir sebelum drama ini selesai masa tayangnya di Korea, aku memutuskan, begitu saja, untuk menonton Reply 1988. Bagi pecinta drama Korea, drama ini pasti sudah tidak asing. Sebelumnya sudah ada Reply 1997 dan Reply 1994, tapi ketiga drama ini tidak saling berhubungan, hanya dibuat dengan satu tema.

Pada dasarnya drama ini berkisah mengenai persahabatan dan cinta, yang berbeda, selama drama berjalan penonton tidak benar-benar mengetahui siapa yang akan menjadi suami atau pasangan pemeran utama wanita di masa depan. Dengan kata lain, penonton harus menebak sendiri dari jalan cerita yang ada. Tema itu juga masih berlaku untuk seri ketiga drama tersebut, tapi tema lain yang kuat terasa dalam seri ini ialah kekeluargaan.

Karena penonton “harus” menebak, biasanya suara penonton akan terbagi dan akhirnya memunculkan pendukung untuk tiap tokoh yang memiliki kemungkinan terbesar sebagai suami di masa depan. Reply 1988 juga menghadirkan Tim Taek dan Tim Jung-hwan. Jelas, kan? Salah satu di antara mereka merupakan pemeran utama dan yang lain pemeran utama kedua.

Aku tidak akan membicarakan drama ini secara keseluruhan dan tidak juga per-episode, hanya episode delapan belas. Kenapa? Karena bisa dibilang di episode ini semua kisah cinta seolah menemukan titik terang, yang terpisah bertemu kembali, yang putus bisa ngobrol lagi, dan yang ragu terhadap perasaannya mendapat jawaban, dan yang menjadi pemeran utama pria akhirnya ketahuan (hhe). Bagi karakter lain, episode ini merupakan awal dari akhir bahagia untuk kisah cinta mereka, tapi bagi Jung-hwan dan pendukungnya, termasuk aku, ini episode terakhir.


Kiri-kanan: Sun-woo, Deok-sun, Taek, Jung-hwan, Dong-ryong

Mari berkenalan dengan gang Ssangmun-dong kita, ada Sung Deok Sun (Lee Hyeri), Kim Jung Hwan (Ryu Jun-yeol), Choi Taek (Park Bo-gum), Sung Sun Woo (Go Kyung-pyo), dan Ryu Dong Ryong (Lee Dong-hwi) yang sudah bersahabat dari kecil. Episode ini dimulai dengan karakter kita yang telah tumbuh dewasa dan bekerja, pulang ke rumah. Mereka akan berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun Taek. Mereka berkumpul hingga malam dan saat Deok-sun pergi, terlihat Jung-hwan dan Taek yang memandang tempat Deok-sun tadi duduk.




Keduanya sudah lama menyukai Deok-sun. Namun, karena Jung-hwan mengetahui bahwa Taek juga menyukai Deok-sun, Jung-hwan memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Deok-sun. Hal yang sama dilakukan juga oleh Taek. Jadi, pada tahap ini mereka berdua menahan perasaan dan keinginan untuk memiliki Deok-sun demi persahabatan mereka. Namun, tatapan mata yang mengikuti kepergian Deok-sun tersebut juga membuktikan perasaan tersebut tidak pernah berubah.





Keputusan untuk menyembunyikan dan menahan perasaan itu membuat keduanya masih memiliki kemungkinan yang sama besar. Jadi, hingga di titik ini aku masih berharap, tapi harapan tersebut kandas dipertengahan episode. Deok-sun yang tidak mau diejek oleh teman-temannya, berbohong kalau dia akan menonton konser dengan teman kencannya (janji tersebut sebenarnya sudah dibatalkan) walaupun dia hanya memakai pakaian rumah. Saat itu cuaca sudah mulai dingin, pasti aneh bagi Jung-hwan dan Dong-ryong jika Deok-sun berkeras bilang akan nonton konser dengan pakaian seperti itu.

Namun, toh Deok-sun sampai juga di tempat konser, sendirian dan kedinginan. Sementara Jung-hwan dan Dong-ryong pergi menonton film. Di bioskop, Jung-hwan melihat teman kencan Deok-sun bersama perempuan lain. Jung-hwan berpikir dan berpikir sebelum akhirnya pergi menyusul Deok-sun. Jung-hwan terburu-buru, khawatir, dan tidak tenang dalam perjalanan. Saat dia tiba, dia melihat Deok-sun dan … Taek.




Benar sekali saudara-saudara, Taek tiba lebih cepat dan Jung-hwan terlambat. Dia berbalik kemudian pergi dengan hati yang sedih. Dalam narasinya Jung-hwan berkata bahwa takdir tidak datang padamu setiap waktu dan setidaknya jika ingin menggunakan istilah tersebut (takdir) harus ada kejadian dramatis yang disebabkan oleh sebuah kebetulan. Kebetulan-kebetulan itulah yang menciptakan sebuah takdir. Karena itu juga, nama lain dari takdir adalah “timing”.




Jung-hwan menyalahkan lampu merah yang dilewati dalam perjalanan, seandainya sekali saja dia tidak terjebak oleh lampu merah, dia akan berdiri di hadapan Deok-sun seolah bahwa itulah takdir. Baginya, perasaannya selalu saja terhalang oleh “timing” yang tidak tepat. Namun, pikiran tersebut berubah saat dia mendengar di radio bahwa Taek sengaja membatalkan pertandingan baduknya (Taek merupakan seorang pemain baduk) demi alasan pribadi. Sekali lagi, Jung-hwan menyesali keputusannya.




“Pada akhirnya, takdir dan timing tidak terjadi karena sebuah kebetulan. Keduanya merupakan hasil dari keinginan yang kuat dan pilihan sederhana yang menciptakan sebuah kejadian yang ajaib. Tegas dan membuat keputusan tanpa keraguan, hal itulah yang menciptakan ‘timing’ yang tepat,” (narasi Jung-hwan).




Jung-hwan akhirnya menyadari bahwa Taek menginginkan Deok-sun melebihi dirinya dan seharusnya dia dapat lebih berani. Bukan lampu merah atau kemacetan yang menghalanginya, juga bukan “timing”, melainkan keraguannya. Dia tahu bahwa ini takdir yang dia pilih dan seharusnya tidak ada penyesalan, kesedihan, ataupun rasa patah hati dan Jung-hwan pun melakukan itu.




Dalam pertemuan berikutnya Jung-hwan seolah sudah bersiap melepas perasaannya pada Deok-sun. Dia merelakan perasaannya dengan cara yang luar biasa, yakni dengan sebuah “pernyataan cinta” dan itu menjadi akhir episode 18.  







Pernyataan cintanya menunjukkan berapa lama Jung-hwan menyukai Deok-sun dan sedalam apa perasaannya. Jung-hwan menunggu satu jam di depan pintu hanya untuk berangkat sekolah bersama, menunggu Deok-sun pulang saat malam hari dan tidak bisa tidur karena khawatir. Namun, di akhir, sambil menatap ke arah Dong-ryong dan Sun-woo, Jung-hwan bilang, “Puas?” Jadi, itu APA?





Dong-ryong dan Sun-woo yang sepanjang Jung-hwan bicara juga sudah kebingungan (Dong: Dia pasti serius, Woo: Udah diam!) tambah bingung ditanya begitu. Setelah beberapa detik, mereka akhirnya mengerti dan tertawa bersama. Calon pasangan ini pun kandas dan Tim Jung-hwan menangis sedih. Di akhir episode sudah hampir pasti bukan Jung-hwan yang akan menjadi suami Deok-sun, tapi pecinta couple ini yang akut bisa jadi masih berharap keajaiban di dua episode terakhir. Namun, hal tersebut juga tidak terjadi karena episode sembilan belas, Jung-hwan justru mendorong Taek untuk menyatakan perasaannya ke Deok-sun. Hufft.  

Sebagai Tim Jung-hwan, aku sedih. Namun, yang paling menyedihkan buatku kisah Jung-hwan merupakan yang paling tragis di antara semua kisah pemeran utama kedua di seri Reply. Jung-hwan menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun seorang diri dan tidak seorang pun yang tahu. Dia tidak bisa bertindak dan mundur demi persahabatannnya dengan Taek. Jung-hwan bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan terbuka pada Deok-sun yang ada hanya pernyataan-cinta-yang-bukan-pernyataan-cinta. Hingga akhir episode, Deok-sun tidak pernah tahu perasaan Jung-hwan yang sebenanya. Saat semua kisah sudah terungkap pun penonton juga tidak diberitahu atau diceritakan mengenai keadaan Jung-hwan (apakah dia sudah menikah? dengan siapa dia menikah?). Karena hal ini juga menurutku, kenapa Tim Jung-hwan susah move on, mereka tidak tahu apakah karakter yang mereka sukai pada akhirnya berbahagia.

Berbeda dengan pemeran utama kedua di Reply 1997 & Reply 1994. Di Reply 1997, Tae-woong sempat berpacaran dengan Shi-won, sementara ending-nya Tae-woong bertemu dengan perempuan lain dan menikah. Reply 1994 tidak sempat memberikan Chilbongie kesempatan untuk menjadi pacar Na-jung, tapi setidaknya dia sempat memiliki harapan itu dan akhirnya pun Chilbongie bertemu seseorang yang bisa kita anggap menjadi pasangannya kelak.

Selain itu, pesan baiknya, belajar dari Jung-hwan dalam hal apa pun, jangan berlama-lama dalam keraguan. Jung-hwan tahu apa yang harus dia lakukan, tapi dia membutuhkan waktu yang lama sekali untuk mengambil keputusan. Keraguan dia tidak dimulai hari itu, tetapi sejak dulu, saat dia pertama kali menyukai Deok-sun. Dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Deok-sun sejak dulu, bahkan sebelum Taek mengetahuinya atau menyadari perasaan Jung-hwan pada Deok-sun. Namun, Jung-hwan menahannya dan tidak pernah melakukannya demi persahabatan hingga akhirnya terlambat dan itu semua karena dirinya sendiri.

Aku juga suka dengan narasi Jung-hwan dan proses yang mengantarkan dia pada kesadaran dan kenyataan yang ada, sekaligus kesalahan yang dilakukan. Narasi tersebut terasa sedih, tetapi juga sangat pas dengan keadaan Jung-hwan. Narasi tentang takdir itu barangkali menjelaskan semuanya. Entah itu cinta atau pilihan hidup, semua dimulai dengan sebuah pilihan dan keberanian untuk melakukannya. Keraguan dapat mengarahkan ke berbagai hal, tetapi di saat bersamaan keraguan hanya menghabiskan waktu dan memperkecil kemungkinan terhadap apa pun yang bisa terjadi.

Pada akhirnya, ini hanya sebuah cerita, yang baik direnungkan, yang tidak masuk akal, abaikan (hha). Karena cerita sudah berakhir begitu, lebih baik mengasumsikan bahwa Jung-hwan bahagia, menikah, dan berteman dengan seluruh teman masa kecilnya hingga tua. Penulis dan sutradara hanya tidak memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk menceritakan semua proses tersebut.


Jika ada dunia paralel, semoga Jung-hwan memperbaiki kesalahan lebih cepat dan mengubah keadannya menjadi lebih baik. Seandainya dunia paralel itu tidak ada, mari berharap semoga penulisnya membuat drama tentang Jung-hwan seorang (hhe). Goodbye fisrt love, goodbye Reply 1988! (Z)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar