Sabtu, 15 Februari 2014

Resensi Buku: Petualangan Wartawan Geje Jay &Willow: Diktator Galau




 



Judul: Petualangan Wartawan Geje Jay &Willow: Diktator Galau

Penulis: @deanmedi & @gendukgendis

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 216 halaman

Terbit: Januari 2014

Harga: Rp43.000,-


Buku ini seolah menggambarkan realita para pencari kerja. Terjebak dalam satu bidang yang tak dikuasai dan tak diinginkan, tapi harus dilakukan dengan berbagai alasan. Jay dan Willow, sepasang adik kakak tiri, tokoh sentral dalam buku ini merupakan salah satu contohnya.

Jay bercita-cita menjadi seorang seniman, lebih tepatnya menjadi seorang pematung. Dengan tekad yang kuat, Jay berangkat ke Yogyakarta untuk belajar ilmu seni tersebut. Tidak berbeda jauh dengan Jay, Willow, saudara satu ayah, tetapi beda ibu, juga memilih jalan untuk menjadi seorang seniman: pelukis.

Namun, apa boleh buat, karena tak jua mendapat pekerjaan setelah lulus, Jay terpaksa menerima pinangan ayahnya untuk bekerja di Kosmopolitik sebagai wartawan. Sementara Willow, juga harus bekerja di sana karena tak kuasa melawan keinginan ayahnya. Menariknya, tabloid politik tempat Jay dan Willow bekerja tersebut adalah perusahaan yang dibangun ayahnya bersama kawan-kawan lamanya.

Dalam kesehariannya menjadi seorang wartawan, Jay dan Willow dihadapkan pada tugas peliputan, penulisan artikel, dan juga wawancara, yang tentunya sangat asing bagi mereka. Belum lagi, mereka harus bertemu pemimpin redaksi (pemred) yang bau badannya seperti kemenyan, teman sekantor pecinta boyband, dan seorang redaktur pelaksana yang lebih berkuasa daripada pemred.

Tampaknya, sosok diktator galau yang dimaksud oleh judul buku ini adalah sang redaktur pelaksana tersebut. Seorang wanita yang berbadan kekar dan sangat anti terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) bernama Kiki Drajat atau biasa dipanggil dengan sebutan Mbak KD. Pada seri pertama ini (seri kedua sudah rilis) fokus konflik adalah kasus yang berkaitan dengan KD tersebut.

Jay dan Willow tidak menyelesaikan masalah tersebut, tetapi Willow memiliki peran yang cukup penting untuk menggiring opini para karyawan lainnya meski untuk sesaat. Selain itu, karakter Willow pada kasus ini juga untuk membangun plot cerita yang dapat menguak rahasia yang disembunyikan oleh KD.

Untuk pertama, membaca buku ini mungkin sedikit membingungkan karena setiap bab diisi dengan sudut pandang karakter Jay dan Willow secara bergantian. Saat karakter Jay, digunakan sudut pandang orang ketiga, sementara Willow menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, kebingungan tersebut hanya sesaat karena setelahnya akan terbiasa.

Cerita dalam buku ini dibuat serealistis mungkin, karakter Jay dan Willow tidak muluk-muluk, apa adanya dan terasa seperti orang kebanyakan. Karakter Willow yang cerdas dan energik melengkapi karakter Jay yang santai dan tidak pedulian (secara keseluruhan karakter Jay sangat kocak).

Awalnya, saya membayangkan Jay dan Willow akan seperti Tom and Jerry yang tidak bisa akur mengingat silsilah keluarga mereka. Namun, hubungan mereka lebih baik, bahkan seperti dua sahabat yang saling mengerti.

Ceritanya ringan (hampir komedi) dan disampaikan dengan tutur bahasa yang populer dan lugas. Di beberapa bagian cerita, pembaca akan disuguhi humor yang cukup mengguncang perut. Namun, di bagian lain, ada juga humor yang ada terasa sedikit nanggung (sebenarnya berpotensi menjadi adegan yang sangat lucu). Di bawah ini paragraf yang menurut saya cukup menghibur.

Seingatku, dulu Papi pernah memajang sederetan patung orang kerdil karya Jay, yang menurutku seharusnya diletakkan di taman, bukan di ruang kerja. Akibatnya, beberapa rekan Papi yang datang sambil membawa anak mereka yang masih kecil banyak yang kelojotan di tempat saking takutnya. Padahal, kata Jay model patung itu muka Papi sendiri dari masa ke masa.

Konflik dalam buku ini tidak terlalu berat dan sosok KD sebagai diktator galau entah kenapa kurang meninggalkan kesan. Saya tidak dapat menemukan di mana letak kegalauan KD meski karakternya yang anti-KKN sangat terasa.

Namun, penulis memberi porsi yang pas untuk semua karakter yang ada, seperti karakter kedua ibu tokoh utama serta teman-teman karyawan Jay dan Willow (Mas Gun, Mas Riyadi, dan lain-lain). Kehadiran mereka tidak asal ada, tetapi memang melengkapi cerita.

Buku ini juga menghadirkan beberapa parodi di kehidupan nyata. Seperti nama-nama tokoh yang sudah akrab di telinga, lalu juga ada karakter yang mewakili sosok di dunia nyata yang terkenal dengan statunisasinya, sosok dukun nyentrik, atau fenomena serbuan para selebritis ke dunia politik. Semuanya disampaikan dengan gaya humor yang sedikit menyindir.

Terakhir, meski cerita buku ini ringan dan tidak semua humornya berhasil, akhir di cerita buku ini sanggup membuat saya ingin membaca bagian yang kedua. Terutama karena di bagian akhir kedua penulis mampu membuat saya penasaran terhadap kelanjutan cerita Jay dan Willow.

2 komentar:

  1. Selalu ada hal kocak yg bisa terjadi saat menjalani profesi sbg juru warta ya. :-D
    Keep writing Wit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ya din:) tiba-tiba mikir hha

      Hapus