Selasa, 10 Februari 2015

Kicauan: Mengapa Kau Masih Tak Mau Mencintaiku?





Mengapa kau masih tak mau mencintaiku?

Jika kalian pernah membaca buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi, Edensor, apa kalian ingat dengan kata-kata itu? Kata-kata itu menjadi judul bab keenam belas dalam Edensor sekaligus judul puisi yang ada dalam bab tersebut. Bagian favoritku dalam Edensor.

Aku menyukai puisi ini karena entah mengapa aku dapat merasakan ketulusan cinta di dalamnya. Puisi yang singkat, tapi padat. Isi hati seorang anak manusia yang sudah sekarat menanggung cinta menahun dan rindu yang tak kian berlabuh. Sebuah puisi yang akan membuat siapa pun yang membacanya akan tahu betapa besar cintanya untuk gadis itu.

    

    Puisi untuk satu-satunya cinta dalam hidupku! Zakiah
       Nurmala ….
    Di sini! Disaksikan pusara Jim Morrison, kukatakan
       padamu!
    Rampas jiwaku!
    Curi masa depanku!
    Jarah harga diriku!
    Rampok semua milikku!
    SIta!
    Sita semuanya!
    Mengapa kau masih tak mau mencintaiku?!



Arai dan cintanya, Zakiah Nurmala. Pria yang tak kenal kata berhenti dan wanita yang sulit ditembus hatinya. Cinta pada pandangan pertama sejak awal mula masa SMA di mulai. Cinta yang selalu seolah menabrak dinding dan berbalik kembali ke hati Arai. Bertumpuk dan menyesakkan dadanya.

Semua cara mungkin telah ditempuh, berbagai kata dan ungkapan juga sudah diutarakannya. Mungkin juga tak terhitung puisi dan surat yang ditulis, tapi cintanya tak pernah menepi. Namun, bukan Arai namanya jika ia menyerah begitu saja.

Ia bahkan tak pernah melupakannya. Saat ia belajar di Prancis dan mengelilingi separuh dunia, Zakiah tak pernah absen dalam ingatannya. Rindu dan sesak di hati pun tumpah ruah di depan pusara Jim Morrison, berharap angin menyampaikannya, melintasi benua dan samudera untuk satu-satunya cinta dalam hidupnya.

Perjalanan yang panjang dan pembuktian yang sakral untuk cinta yang tulus. Tahun-tahun berlalu, beribu manusia dijumpai, dan puluhan negara dikunjungi, cintanya tetap sama, rindunya tetap pulang padanya.

Aku bertanya-tanya, pernahkah aku menjumpai yang seperti itu dalam hidup ini? Atau akankah? (Z)


Foto: wikipedia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar