Sabtu, 15 Oktober 2016

Resensi Buku: Bilang Begini, Maksudnya Begitu






Judul: Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 146
Harga: Rp45.000
Terbit: Cetakan Kedua Maret 2016



  
“Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi.” (hal. 133)

Sebuah puisi lebih dari sekadar kalimat. Puisi merupakan “permainan” sang penyair terhadap bahasa yang digunakannya hingga kata-kata tersebut mencapai makna tertentu (hal.133). Seringkali saat membaca puisi, kita sebagai pembaca menerka-nerka sendiri maksud di balik setiap pilihan kata yang digunakan. Kiranya, apa yang sebenarnya penyair ingin sampaikan melalui puisi ini

Ketidakpahaman itulah yang terkadang membuat pembaca terkadang tidak benar-benar dapat mengapresiasi puisi yang dibaca. Buku ini mengajak kita untuk lebih mengenal dan memahami puisi sehingga dapat mengapresiasinya sebagaiman seharusnya. Karena puisi bukan sebuah rangkaian kata yang disatukan secara sembarangan, puisi merupakan seni yang membuatnya pun membutuhkan usaha dan kemampuan dari sang penyair.

Nah, bagaimana Sapardi Djoko Damono sebagai penulis buku ini mengajak kita untuk mendapat mengapresiasi sebuah puisi? Ada sepuluh bab dalam buku ini. Setiap bagian dalam buku ini juga terbagi lagi dalam nomor-nomor. Aku tidak terlalu mengerti maksud nomor ini, tapi aku menduga nomor ini hanya sebagai pemisah satu topik dan topik lain dalam bab atau fungsinya seperti sebuah subjudul. Bisa juga, karena dalam buku ini terdapat banyak penjelasan, nomor tersebut untuk menandai dan memudahkan pembaca untuk mencari pembahasan tertentu. 

Bab pertama buku ini mengajak kita untuk mengenali perbedaan puisi dari jenis tulisan lain secara visual. Puisi dan tulisan lainnya berbeda, puisi dan berita, misalnya, berbeda karena adanya tanda baca dan juga susunan larik. Lalu, bab berikutnya membahas bunyi pada puisi yang tidak hanya dapat menegaskan makna, tetapi juga membangun suasana.

Penulis juga membahas jenis-jenis puisi serta pemilihan kata pada bab-bab berikutnya. Pada bab Bilang Begini, Maksudnya Begitu penulis mengajak kita untuk lebih baik melihat “gambar” yang dibuat oleh penyair dalam rangka memahami maksud puisi. Sementara pada bagian keenam hingga kesepuluh, menurutku bab ini menjelaskan mengenai tema-tema yang umum menjadi pilihan penyair. Nama-nama bab ini, Iman: Manusia dan Pencipta (bab 6), Simpati Kepada Orang Susah (bab 7), Cinta (bab 8), Sikap Hidup (bab 9), dan Memanfaatkan Dogeng (bab 10). 

Yang paling menarik ialah dalam setiap bagian tersebut, penulis akan menyertakan beberapa contoh puisi dari berbagai penyair dan membahas puisi tersebut sesuai dengan topik pembicaraan. Pembahasan puisi tersebut juga pada akhirnya dapat menuntun pembaca lebih memahami maksud puisi dan pesan yang ingin disampaikan penyair. Penjelasannya akan membuat kita paham pada maksud di setiap larik dan bait puisi.  

Bagian penjelasan mengenai puisi ini merupakan bagian yang paling menyenangkan karena aku merasa seolah sedang membedah setiap kata dalam puisi untuk mengetahui apa yang tersurat dan memaknai lebih dalam apa yang tersirat. Puisi, bahkan yang dengan pilihan kata sederhana juga bisa memiiki maksud lain yang terkadang tak bisa kita tangkap.

Kemampuan untuk memahami dan menangkap pesan, gambar, atau makna puisi memang berbeda bagi setiap orang, tergantung pada latar belakang juga pengetahuannya terhadap berbagai piranti puisi. Hal ini juga beberapa kali disinggung oleh penulis. Ketidaktahuan seseorang tersebut terkadang menyebabkan sebuah puisi terasa “gelap”. Nah, buku ini sedikit menyibaknya untuk Anda. 

Sekalipun piranti puisi tersebut tidak dibahas secara menyeluruh (karena barangkali buku ini tidak dimaksudkan demikian), penjelasan mengenai makna dan maksud setiap puisi yang digunakan sebagai contoh dalam buku ini dapat membantu kita untuk bisa sedikit lebih baik dalam “membaca” puisi. 

Secara keseluruhan, aku nyaman membaca buku ini, disusun dengan bahasa yang rapi dan penjelasan yang runut. Buku ini juga tidak terasa berat karena berbagai teori, menurutku buku ini menjelaskan puisi atau makna puisi dengan cara sederhana yang logis dan mudah dipahami. Aku justru ingin membaca lebih banyak, penjelasan berbagai maksud puisi, piranti puisi, dan apa pun yang masih terkait oleh puisi.(Z)

Foto: gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar