Sabtu, 15 Oktober 2016

Resensi Buku: Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea)




Judul Buku: Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea)
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Badan Penerbit Pustaka Jaya

 

Novel satu ini pastinya sudah sangat terkenal. Aku juga sudah sering mendengar tentangnya, tapi tidak pernah tahu isi buku tersebut hingga saat kuliah dulu, salah satu dosen menyinggung sedikit mengenai The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway ini. Mendengar kekaguman dosenku terhadap penulis dan isi cerita, aku menjadi penasaran.

Saat membaca buku ini, aku tidak mengharapkan apa pun yang luar biasa. Namun, ketika aku baca, aku mengerti maksud dosenku dulu. Kisah ini sebenarnya sederhana, tetapi memiliki kedalaman cerita yang membuat pembaca bisa bertahan hingga akhir. Kisahnya, seorang lelaki tua, yang kemudian diketahui bernama Santiago, berlayar berhari-hari, tapi tidak juga beruntung mendapat seekor ikan. Ikan yang dimaksud di sini barangkali ikan yang cukup layak untuk dijual.

Di hari ke-85, ia kembali turun ke laut, ia sendiri saja dengan bekal seadanya. Saat itulah, perjuangannya di laut dimulai. Santiago sendiri dan teman kecilnya, Manolin percaya hari ke-85 tersebut akan menjadi hari keberuntungannya. Perjalanannya dimulai dengan mendapat seekor albacore dan tidak lama setelah itu umpannya dimakan oleh seeokor ikan yang cukup besar.

Ikan ini menemaninya selama dua hari ke depan (kalau perhitunganku tidak salah) di laut. Ikan tersebut tidak terluka berat. Dengan kail di mulutnya, ikan ini mengarungi lautan tanpa menyadari bahwa ia juga membawa beban sang lelaki tua dan perahu yang ditumpanginya di permukaan. Lelaki tua tersebut hanya mengikuti arah berenang ikan hingga ia lelah. Dalam perjalanannya, lelaki tua tersebut makan ikan mentah hasil pancingan dan minum seteguk demi seteguk air sebotol yang dibawanya.

Ikan tersebut sesekali muncul ke permukaan dan disadarilah oleh lelaki tua bahwa lawannya merupakan ikan yang sangat besar dan kuat, seekor ikan yang besarnya belum pernah dijumpainya. Bila ikan ini melonjak sedikit, kail bisa terlepas, lelaki tua kehilangannya, dan lebih buruk bila lelaki tua bukanlah lawan yang sepadan untuk si ikan.

Malam pada hari kedua, ikan tersebut mulai melonjak ke permukaan, berputar-putar, dan mulailah pertarungan yang sudah lama dinantikan lelaki tua. Lelaki tua tersebut sudah sangat lelah, tubuh serta tangannya sudah terasa sangat sakit karena harus menahan beban tali yang menghubungkannya dengan ikan. Setelah berkali-kali mengendurkan dan menarik tali, ikan tersebut akhirnya berhasil dibunuh.

Namun, berhasil dibunuhnya ikan tersebut bukan berarti sang lelaki tua beruntung. Ikan tersebut terlalu besar untuk diangkat dan diletakkan di perahunya, ikan itu akhirnya dirapatkan dan diikat di sisi perahu. Darahnya sudah mewarnai air laut, baunya tersebar, dan mengundang berbagai hiu yang tak kalah ganas untuk memakannya. 

Rasanya sungguh kasihan membayangkan seorang lelaki tua sendirian di laut (meski dia seorang yang tangguh), tidak makan dan tidur dengan layak, tubuhnya sakit, serta tangannya terluka, masih harus menghadapi banyak ikan hiu yang mengincar hasil tangkapannya. Aku pikir, ikan itu benar-benar akan menjadi peruntungannya, tetapi tidak demikian. 

Perjuangan yang melelahkan tersebut berakhir menyedihkan dan jauh lebih sedih karena lelaki tua tersebut sudah berusaha sekuat tenaga seorang diri untuk menaklukannya. Di akhir, dia mengatakan, “Mereka mengalahkanku, Manolin,” pada teman kecilnya. Meski begitu, akhir cerita ini terasa masuk akal, terlebih dengan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi di laut. Aku merasa barangkali terlalu muluk untuk mengharapkan ikan besar tersebut dapat dibawa ke daratan, padahal bau darahnya dapat dicium ikan lainnya. Namun, aku juga tidak ingin lelaki tua tersebut tidak seberuntung ini.

Kisah ini sangat menarik, kalau dipikir-dipikir, tidak banyak tokoh dan hampir setengah buku dihabiskan di laut dengan monolog lelaki tua serta interaksinya bersama ikan. Lawan lelaki tua tersebut ialah ikan, temannya juga ikan, yang mengalahkannya pun ikan! Bagaimana peran ikan begitu penting dalam memainkan perasaan dan harapan sang lelaki tua, juga kita pembaca. 

Sementara persahabatannya dengan seorang anak (yang dulu ikut melaut bersamanya), Manolin terasa seperti penyejuk dan penghangat hati di antara kesedihan serta kesialan yang menimpa lelaki tua itu. Setidaknya, dia masih memiliki seseorang yang mendukung, memerhatikan, menyayangi, dan mengidolakannya. Tanpa anak tersebut, lelaki tua itu pasti sangat kesepian. 

Akhir cerita ini juga mengingatkanku pada pengalaman, entah itu pengalaman sendiri ataupun orang lain, melakukan perjuangan yang lama dan berat hanya untuk hasil yang nihil. Namun, barangkali bukan itu yang ingin ditegaskan oleh penulis, barangkali proses dan perjuangan lelaki tua itulah yang menjadi inti dari semuanya. Atau mungkin tidak?

Aku sempat berpikir, mungkin ada maksud lain di balik cerita, semacam metafor atau simbolisasi, tapi aku tidak menemukan perbandingannya. Selain itu. Hemingway juga menegaskan tidak ada simbolisasi, laut ya laut, begitu pun dengan lelaki tua dan hiu yang terdapat dalam cerita. Pada akhirnya, ini hanya sebuah cerita yang mengagumkan.

Satu kesulitan, sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan dunia memancing sehingga membutuhkan waktu untuk memahami dan membayangkan dunia pancing-memancing dalam buku. Maafkan juga bila terdapat pemahaman yang salah terhadap istilah pemancingan, hhe. Selain itu, karena aku membaca buku cetakan lama, aku sedikit khawatir akan terdapat bahasa atau istilah yang tidak kumengerti, tetapi ternyata justru tidak. Bahasanya mudah dipahami dan masih sesuai untuk dibaca di masa sekarang. Sementara untuk sampul buku, aku sedikit kesulitan, akhirnya aku pakai yang di wikipedia. Terakhir, buku ini pastinya bisa masuk daftar bagi siapa pun yang ingin membaca karya sastra klasik. Selamat membaca! (Z)

Foto: wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar