Kamis, 30 Januari 2014

Resensi Buku: Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo's Calling)


Sumber: google.com

 
Judul: Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo’s Calling)

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 520 halaman

Terbit: Desember 2013

Harga: Rp.99.000,-

 
Dengan tidak menginginkan adanya ekspektasi berlebihan terhadap bukunya, J.K. Rowling hadir dengan nama pena barunya, Robert Galbraith dalam buku The Cuckoo’s Calling. Buku ini hadir di Indonesia pada bulan Desember 2013 dan diterjemahkan menjadi Dekut Burung Kukuk.

The Cuckoo’s Calling sendiri merupakan novel kriminal yang menghadirkan seorang detektif mantan tentara yang kini tengah mengalami masalah keuangan, Cormoran Strike. Tak hanya masalah keuangan, kehidupan pribadinya juga tengah mencapai titik didih yang sudah tak bisa ia tahan.

Di tengah situasi seperti itu, datanglah John Bristow yang memintanya untuk menyelidiki kembali kasus kematian adik angkatnya, Lula Landry. Lula Landry, seorang supermodel diduga meninggal karena bunuh diri dengan melompat dari balkon apartemennya pada malam dingin yang bersalju.

Sang kakak, John Bristow tak terima dengan kesimpulan polisi tersebut. Dia yakin adiknya tak mungkin melakukan hal itu. Dia juga menegaskan tidak ada tanda-tanda Lula akan melakukan hal itu. Cormoran awalnya meragukan kata-kata Bristow, mengingat kepolisian pasti sudah menangani kasus ini sebaik mungkin apalagi dengan banyaknya sorotan media. Namun, tawaran yang diajukan John sangat menggiurkan apalagi dengan asumsi dia akan dapat membayar beberapa hutangnya yang menunggak.

Selain itu, ada hal lain yang membuat Cormoran tergerak hatinya: keadilan. Dengan dibantu, pegawai temporernya, Robin Ellacott, Cormoran menyusuri kembali satu per satu jejak Lula Landry pada malam sebelum kematian merenggutnya. Sebuah pencarian yang tidak hanya membawanya pada kehidupan Lula yang paling rahasia, tetapi juga pada kenyataan yang akan mengancam nyawanya.

Dalam perjalanan mencari kebenaran tersebut, kita akan dibawa pada dialog-dialog cerdas, dingin, dengan logika cerita yang sangat runut. Penulis juga akan memberikan detail lain yang membuat penokohan karakter semakin kuat. Pembaca akan dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi Cormoran, seorang anak dengan latar belakang keluarga yang kacau, pekerjaan dengan hasil yang tak menentu, cinta yang rumit, dan pencapaiannya yang tak bisa dibandingkan dengan pria seusianya.

Detail lainnya yang tak bisa dilupakan, seperti tempat, waktu, dan suasana memberikan gambaran nyata London di kepala pembaca. Bagaimana penulis merancang kasus yang menjadi inti cerita buku ini juga sangat layak diapresiasi meskipun bukan dengan ide cerita dan proses pemecahan yang rumit bagi sebuah novel kriminal. Pada akhirnya, buku ini menyajikan sebuah cerita yang sangat rapi dari segi teknis maupun cerita.

Namun, jika dibandingkan dengan sebuah jalan, cerita ini merupakan sebuah jalan lurus yang tiap belokannya dapat kita tebak (siap-siap dengan batu kejutan yang tak terduga), hanya kita tidak tahu akan berakhir di mana. Cerita ini memiliki plot sederhana dengan alur maju. Hal yang membuat buku ini menarik ialah proses pencarian bukti yang terkesan misterius dan tentu saja siapa pelaku sebenarnya. 

Dibungkus dengan latar belakang dan kehidupan para tokoh (dalam buku ini tokoh dengan latar belakang yang diceritakan secara detail ialah Cormoran dan Robin) yang memiliki permasalahan dan kegundahan menjadikan cerita ini sangat hidup.

Menarik membaca bagaimana penulis mengarahkan hubungan Cormoran dan Robin, tetapi yang terjadi justru hal yang benar-benar tidak diperkirakan. Akhirnya, kita tahu mungkin penulis hanya ingin menggiring pembaca pada suatu hubungan yang akan tercipta, tapi pada akhir justru membawa pembaca pada hal yang sangat berbeda.

Sejujurnya, saya menyukai hubungan yang penulis ciptakan antara Cormoran dan Robin, jauh dari kesan romantis justru lebih kuat ke arah persahabatan. Jika buku ini ada sekuelnya, saya berharap karakter Robin akan berkembang menjadi asisten dan partner kerja yang dapat diandalkan sekaligus sahabat yang setia bagi Cormoran.

Kembali pada judul buku ini, dalam bagian buku ini disebutkan teman Lula Landry, Guy Somé memanggil Lula dengan nama Cuckoo. Sejenak, kita pasti berpikir mungkinkah judul buku ini didasarkan pada panggilan nama itu? Kalau kata Cuckoo pada judul mengacu pada sebuah nama, bukankah seharusnya tak harus diartikan burung kukuk?

Entahlah, tapi secara keseluruhan penerjemahan buku ini ke dalam bahasa Indonesia sangat baik dan tidak menyulitkan pembaca untuk memahami isi cerita. Selain itu, terjemahan puisi (diksi dan susunan kalimat) yang ada dalam buku ini juga sangat bagus seolah-olah puisi itu memang dibuat dalam bahasa Indonesia (M. Aan Mansyur sangat keren menerjemahkannya). Entah benar atau tidak, tapi saat membaca puisi di halaman terakhir buku ini, saya seperti merasa buku ini akan ada sekuelnya.



Aku tak mampu rehat dari petualangan:

aku mau mereguk tuntas hidup hingga tandas,

sampai ampas; seluruh waktu telah kunikmati

sehikmat-hikmatnya, telah melukaiku secuka-cukanya,

baik ketika bersama mereka yang kucintai,

atau saat aku sendiri menemani diri;

Di landai pantai, gugus bintang Hyades berjatuhan bagai

hujan petir

menyalakan samar hampar lautan: aku menjelma sebaris

nama... (hal. 517)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar