Sabtu, 02 September 2017

Resensi Buku: Paper Towns by John Green





Judul: Paper Towns
Penulis: John Green
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 360 hlm.
Harga: Rp64.000
Terbit: Agustus 2015

Margo Roth Spiegelman bukan karakter remaja putri biasa. Dia bebas, misterius, dengan pemikiran yang juga mengagumkan. Setidaknya, kekaguman seperti itulah yang dirasakan oleh Quentin Jacobsen. Q, panggilan Quentin memang mengagumi tetangganya itu dan menyukainya sejak lama.

Mereka berteman sejak kecil, tapi ajaibnya mereka tidak tumbuh sedekat itu saat beranjak dewasa. Namun, mereka masih bisa dibilang berteman karena suatu malam, setelah sembilan tahun, Margo kembali mendatangi Q, tepatnya mengunjungi melalui jendela kamarnya. Margo digambarkan dengan sangat unik, dia mencoba berbagai hal yang mungkin tak umum bagi kebanyakan remaja dan pemikirannya pun tidak berada di level yang sama dengan teman-temannya.

Kejadian malam itu menjadi penanda penting karena setelahnya Margo kembali menghilang (Margo pernah beberapa kali pergi dari rumah). Kepergiannya kali ini tampaknya untuk waktu yang lama atau bahkan untuk selamanya. Yang menarik, Margo meninggalkan beberapa pesan tersembunyi untuk Q—atau begitulah yang Q pikirkan. Dari sanalah pencarian Margo dimulai.

Pencarian tersebut sendiri merupakan sebuah penemuan yang luar biasa bagi Q. Selama ini, Q hanya bisa memandangi jendela kamar Margo dan tak pernah tahu isinya. Namun, dalam pencarian ini, Q melihat dan masuk ke dalam, melihat dan menemukan bahwa dunia Margo begitu jauh dari bayangannya. Semakin jauh, semakin dia sadar, dia tak mengenal Margo.

Dari segi plot, sepertinya memang itulah tujuan pencarian Margo, agar Q memahami siapa Margo sebenarnya dan mengenal dirinya sendiri lebih baik. Q memiliki bayangan yang begitu hebat mengenai gadis tersebut di kepalanya dan barangkali dia berpikir begitulah Margo. 

Karakter Q bisa dibilang bukan karakter favoritku, tapi mungkin karakter seperti dia normal bagi remaja  laki-laki di Amerika. Rasa suka dan pertemanannya membawa dia pada sebuah pencarian panjang. Sebelumnya, Q mungkin tidak pernah mendekati Margo karena mereka menjauh saat beranjak besar, tapi dengan pencarian ini setidaknya memberi Q jawaban terhadap Margo dan perasaannya. 

Cerita buku ini menggunakan banyak metafora dan karenanya membuat buku ini semakin menarik. Seperti bagaimana Margo menyebut daerah tinggalnya sebagai kota kertas, rumah-rumah kertas, dan manusia-manusia kertas. Selain itu, buku ini juga memiliki banyak pesan yang mendalam melalui dialog-dialog karakternya.

Margo sendiri menurutku karakter yang rumit. Dia memiliki pemikiran dan kebiasaan yang tak umum, dia tidak berpikir bahwa hidup normal—sekolah, bekerja, menikah, dan menjadi tua—merupakan hal yang penting. Dia tidak mau peduli dengan pandangan orang lain, tetapi nyatanya dia peduli dan itu membuatnya merasa takut. Kerumitan Margo menurutku juga karena keluarganya. Awalnya barangkali orang tuanya yang menuntut dia untuk menjadi sosok gadis sempurna dan dia menyukainya—tampil dengan pakaian bagus, terkenal, dan memiliki banyak teman—sebelum dia menyadari betapa palsu semua itu, bahwa kehidupannya tidak sesempurna yang orang lain kira. Yang aku bingung, dia jelas pergi untuk hidup sebagai dirinya sendiri dan bukannya seperti yang orang harapkan, tetapi apakah dia memilih hidup seperti itu—dengan berpindah-pindah sebagai dirinya? Jika iya, dia mungkin memang berbeda dari kebanyakan orang.

Buku ini ditulis dengan sudut pandang Quentin dan sepanjang pencarian bisa dibilang kita hanya akan mendengar Margo tanpa sepenuhnya melihat atau mengetahuinya. Karena itu, sulit mendapatkan gambaran utuh mengenai Margo. Kita sama butanya seperi Quentin.

Sejujurnya, ini buku pertama John Green yang kubaca (The Fault in Our Stars sampai sekarang belum juga dibaca hhe) dan aku menyelesaikannya dengan cukup cepat. Margo merupakan karakter yang unik dan aku menyukainya. Barangkali karakter Margo merupakan salah satu hal favoritku dalam buku ini. Selain itu, dibandingkan dengan pencarian Margo, pesan dalam dialog terasa jauh lebih berkesan dan tentunya yang menjadikan buku ini lebih berbobot. Untuk akhir cerita, aku merasa pilihan Q dan Margo terasa sangat dewasa, mereka menyadari perbedaannya dan tidak memaksakan diri. (Z)

Foto: gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar