Senin, 09 Januari 2017

Resensi Buku: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared






Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared 
Penulis: Jonas Jonasson
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 516 hlm.
Terbit: 2014
 

[SPOILER ALERT]

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared, judul yang cukup panjang, bukan? Hhe. Buku Swedia karangan Jonas Jonasson ini bercerita mengenai Allan Karlsson dan petualangannya. Awalnya, aku tertarik dengan judulnya yang sangat panjang, setelah itu aku rasa sinopsis buku ini cukup menarik.

Saat membaca sinopsis aku mengira setelah Allan memanjat keluar dari jendela kamarnya di Rumah Lansia, dia akan kembali ke masa lalu dan memulai petualangannya dengan sejumlah tokoh besar dunia. Namun, setelah membaca buku ini yang terjadi bukanlah demikian. Allan Karlsson akan segera berulang tahun yang ke-100 dan Rumah Lansia tempat dia tinggal sudah menyiapkan pesta dengan mengundang Walikota serta media. Akan tetapi, Allan ternyata tak tertarik.

Dia di kamarnya justru memiliki sebuah ide gila untuk pergi dari tempat tersebut dan begitu saja, dia keluar melalui jendela kamarnya yang terletak di lantai dasar, tanpa membawa barang apa pun hanya dompet berisi beberapa ratus krona. Dia berjalan menuju terminal dan bertemu dengan Bolt, dari sanalah masalah dimulai. Sementara itu, secara paralel penulis menceritakan mengenai kisah hidup Allan yang telah berlangsung lama itu. Kisah Allan di masa muda dan ceritanya di masa kini ditampilkan dalam bab secara bergantian.

Dalam seratus tahun kehidupannya, Allan yang merupakan ahli peledak ini telah menjumpai banyak orang, termasuk di dalamnya orang-orang terkenal sepanjang masa dan terlibat dalam berbagai urusan penting dunia. Sebut saja, Jenderal Franco di Spanyol lalu Presiden Amerika Serikat, Harry Truman.

Atas permintaan Harry Truman pula Allan pergi ke daratan Tiongkok untuk membantu Chiang Kai-shek. Namun, sebelum bantuan tersebut dilaksanakan, Allan sudah kehilangan minat. Dia memutuskan pulang ke negaranya, melintasi Himalaya lalu terhenti saat mencapai Iran. Pada akhirnya, dia bisa pulang. Namun, tidak lama setelahnya Allan kembali pergi, kali ini Uni Soviet dan pemimpinnya kala itu, Stalin. 

Pertemuan dengan Stalin tidak berjalan mulus. Allan ditahan dan akhirnya diputus bersalah lalu ditempatkan di kamp kerja paksa. Setelah lima tahun tiga minggu, Allan memutuskan untuk pergi dari sana. Rencananya tersebut tentu saja melibatkan sebuah ledakan. Dia berencana kabur ke Korea Selatan, tapi untuk sampai di sana, Allan tentu harus menyeberangi Korea Utara terlebih dahulu. 

Di Korea Utara, Allan bertemu dengan Kim Il Sung dan Mao Tse-tung. Nyawanya mungkin tidak akan selamat jika bukan karena bantuan yang dulu dia berikan (bukan dalam hal ledakan). Berkat bantuan tersebut, para petinggi komunis itu mewujudkan keinginan Allan untuk berlibur. Ke mana? Ke Bali. Di Bali, Indonesia, dia berlibur selama lima belas tahun, sebelum akhirnya pergi ke Prancis dan dilanjutkan ke Uni Soviet sebagai mata-mata Amerika Serikat. 

Kisah tersebut hanya dari perjalanan hidup Allan ketika muda hingga menjelang seratus tahun dan tidak berhenti hingga di sana. Saat usianya seratus tahun dia menghadapi petualangan baru. Bukan petualangan yang mengagumkan sebenarnya karena petualangan ini melibatkan unsur kriminalitas. Namun, tentu saja jika dilihat dari sejarah hidup dan usianya yang tak lagi muda, kejadian tersebut sudah cukup luar biasa. 

Bolt yang ditemui Allan di terminal membawa sebuah koper dan karena suatu hal dia tak punya pilihan selain menitipkan koper tersebut pada Allan. Allan sebenarnya tak bisa menunggu lama karena dia harus menaiki bus dan dia pun dalam pelarian. Bus datang, Bolt belum kembali, akhirnya koper itu pun Allan bawa. Membawa koper itu pun merupakan sebuah ide gila karena tindakan tersebut bisa dianggap sebagai pencurian. Koper ini isinya bukan benda sembarangan dan karenaya Bolt mati-matian mengejar Allan. Sementara Allan, dia hanya pergi tanpa tujuan. Dia beruntung karena dalam perhentiannya ada yang mau menolong. 

Kisah pelarian dan koper ini berlanjut hingga melibatkan banyak orang dan bahkan menjadi konsumsi media serta publik. Koper yang dicurinya pun membuat dia mengambil keputusan yang melanggar aturan. Namun, karena koper itu juga, Allan bertemu teman-teman baru yang akhirnya juga terlibat dalam urusan kriminal karena ikut bersamanya.

Meski Allan dan teman-temannya melakukan tindakan kriminal, Allan sebenarnya bukan orang yang sepenuhnya jahat (begitu pun dengan teman-temannya), tapi dia juga bukan orang yang memiliki empati tinggi. Dia tidak peduli pada politik, termasuk juga—ini menurutku—tidak peduli pada nasib orang-orang di sekitarnya. Selain itu, selama seratus tahun hidupnya, setelah mengalami banyak perang dan masalah, Allan orang yang sangat beruntung dan memiliki banyak naywa, hhe. Dia selalu selamat dan lolos dari maut.

Allan juga tampaknya bukan orang yang akan berpikiran panjang saat dihadapkan pada sesuatu, karenanya dia bisa berakhir di Tiongkok atau Uni Soviet. Keputusan yang dia ambil tersebut tidak selalu menguntungkan, tetapi menariknya karakter Allan tidak diciptakan untuk berkeluh kesah. Dia selalu menerima apa pun yang terjadi. Motonya, “Segala sesuatu berjalan seperti adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.” Karena itu pula, menyeberangi Himalaya berbulan-bulan atau menderita di penjara, tidak membuat dia ingin membalas dendam atau menuntut balas. Dia hanya menjalani semuanya.

Selain kisah yang melibatkan sejarah, pelarian bersembunyi dari polisi, cerita ini juga menarik karena setiap detail saling terkait dan tidak ada karakter yang terbuang percuma. Cerita dalam buku ini juga terasa sangat padat dengan banyak karakter dan kejadian yang dilihat dari beberapa sudut pandang karakter. Ada banyak sindiran yang dihadirkan dengan cara jenaka dan tentunya akhir cerita yang mengejutkan. Banyak karakter serta peristiwa dalam cerita ini yang juga ditampilkan dengan cara komikal. Hanya ada satu kebingungan, sebenarnya Minggu, 9 Mei 2005 atau Senin, 9 Mei 2005? Kalau kalian baca, pasti paham, hhe. 

Kisah hidup Allan sewaktu muda yang tentunya terjadi di tahun-tahun lalu itu sedikit membosankan buatku, tapi pada akhir cerita, bagian itu menjadi landasan yang penting dan mengikat keseluruhan cerita. Terakhir, aku merasa sedikit terganggu karena ringannya penyelesaian kasus kriminal yang dilakukan Allan dan kawan-kawan, entah itu untuk tujuan menyindir atau sekadar menyajikan humor. Untung saja, ini hanya cerita fiktif! (Z)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar