Jumat, 23 Desember 2016

Kicauan: Pembahasan Puisi "Jejak Cincin Pertunangan"






Jejak Cincin Pertunangan 


Oleh Zelfeni Wimra

jejak pertemuan kita melekat pada kerut sebuah bibir tua
di celahnya, gusi tumpul sudah lama tak bergigi
juga lidah yang telah menggetarkan tak berhingga kata-kata
selebihnya menyisa pada jari manis sebelah kiri

sebagai siapa kau datang pada hari raya kali ini?
sebagai pelukan badut ulang tahun
sebagai ciuman nenek di dahi?
atau sebagai bujang latah yang datang menawarkan perundingan;
pergunjingan tentang jejak cincin pertunangan di sela jari

2012



Puisi di atas merupakan salah satu karya Zelfeni Wimra yang diterbitkan di Koran Tempo Minggu (14 Oktober 2012) bersama tiga puisi lainnya. Kenapa saya ingin membahas puisi ini? Sejak membaca buku Bilang Begini,Maksudnya Begitu karya Sapardi Djoko Damono, saya tertarik untuk membaca ulang puisi-puisi yang pernah saya baca dengan maksud memahami isinya lebih baik.

Dalam buku tersebut, Sapardi Djoko Damono membahas banyak puisi beserta maknanya untuk menjelaskan topik atau tema pembicaraan. Membaca penjelasan tersebut seolah membedah isi puisi dan saya ingin coba terapkan pada puisi lain yang saya baca. Lalu, mengapa puisi ini? Tidak alasan tertentu, selain saya menyukainya dan dapat memahami puisi ini (kurang lebih). 

Beberapa puisi lain yang juga saya baca di koran membuat saya gagal paham (hha) atau hanya bisa dipahami sebagian. Namun, bukan berarti pula bahwa pemahaman dan pemikiran saya untuk puisi ini seratus persen benar. Puisi selalu memiliki ruang gelap-terang dan sebagai pembaca saya hanya bisa merabanya. Terlebih, dengan pengetahuan saya yang sedikit, kemampuan untuk memahami puisi pun menjadi tidak sempurna. Apa yang saya maknai juga tentunya dapat berbeda bila orang lain yang lebih ahli mengartikannya. 

Namun, saya rasa tidak ada salahnya menuliskan apa yang dipahami karena ini merupakan salah satu bentuk apresiasi. Selain itu, cara ini juga membantu saya untuk dapat mengerti lebih baik isi dalam sebuah puisi. Saya juga berharap dapat bertukar pikiran dengan siapa pun yang membaca tulisan ini sehingga menambah wawasan serta pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki.
 
Kita mulai! 


Puisi ini tidak terlalu sulit untuk dipahami, ya ‘kan? Terlebih dengan judulnya, pembaca tentu bisa menghubungkan maksud yang ada dalam puisi. Namun, saat aku membaca buku Bilang Begini, Maksudnya Begitu, aku menyadari bahwa puisi yang sederhana pun bisa jadi tidak sesederhana yang dikira. Selain itu, dengan sedikit lebih “bertanya”, pembaca juga akan menyadari sebuah puisi bisa begitu indah.

Sebuah jejak merupakan sebuah bekas. Judul puisi ini, “Jejak Cincin Pertunangan” menunjukkan adanya sebuah hubungan dan apa yang ditinggalkannya. Penulis menyebutkannya dilarik pertama, “jejak pertemuan kita melekat pada kerut sebuah bibir tua... / juga lidah yang telah menggetarkan tak berhingga kata-kata / selebihnya menyisa pada jari manis sebelah kiri”. Dengan kata lain, jejak hubungan tersebut dapat dilihat pada “kerut bibir tua”, “lidah yang menggetarkan tak berhingga kata”, dan “jari manis sebelah kiri”.

Puisi ini menyebut “kita” dan “kau” dalam baitnya. “Kita” bermakna aku dan kamu sehingga menyiratkan “aku” sebagai pengisah dalam puisi meski kata tersebut tidak di tulis. Dalam bait kedua juga disebut “bujang latah” sehingga “aku” dapat dimaknai sebagai seorang perempuan (“sebagai siapa kau datang pada hari raya kali ini?... / atau sebagai bujang latah yang datang menawarkan perundingan;”). Larik “jejak pertemuan kita melekat pada kerut sebuah bibir tua”, barangkali pula menunjukan usia “aku” atau mungkin keduanya yang sudah tidak lagi muda.

Usia yang telah menua ini dipertegas pada larik berikutnya “di celahnya, gusi tumpul sudah lama tak bergigi”. Lalu larik, “juga lidah yang telah menggetarkan tak berhingga kata-kata” yang juga mengindikasikan bahwa “aku” lirik sudah hidup cukup lama. Lalu, jejak hubungan tersebut tersisa pada jari manis sebelah kiri, seperti yang ditulis dalam larik terakhir pada bait pertama, “selebihnya menyisa pada jari manis sebelah kiri”.

Jari manis sudah umum diketahui sebagai jari tempat memasangkan cincin dalam sebuah hubungan, seperti pernikahan atau pertunangan dalam masyarakat kita. Cincin itu tentunya juga tanda suatu ikatan antara dua orang. Kata-kata “selebihnya menyisa pada jari manis sebelah kiri” merupakan sebuah simbol dari cincin dan ikatan (pertunangan) yang pernah ada. Cincin tersebut barangkali sudah tidak lagi digunakan, tetapi “jejaknya” masih dapat dirasakan oleh si punya tangan dan menjadi penanda sebuah kenangan. 

Saya berpikir, jika “aku” dan “kau” telah menua, hubungan tersebut bisa jadi telah lama terjadi sehingga perasaaan sakit pun telah lama dilewati. Meski begitu, ada nada sinis atau tak suka pada kehadiran kembali “kau” yang ditunjukan di bait kedua, “sebagai siapa kau datang pada hari raya kali ini?” Apa penyebab “aku” tidak menyukainya? Ketidaksukaan tersebut akhirnya juga mengarahkan kita pada pertanyaan mengapa hubungan tersebut berakhir? Apakah hubungan tersebut berakhir dengan kesepakatan bersama atau “kau”-lah yang membatalkan pertunangan tersebut dan meninggalkan “aku”? Tentu, ada banyak kemungkinan.

Selain itu, kenapa “kau” datang pada hari raya? Pada hari raya bukankah keluarga, teman, dan berbagai kenalan saling mengunjungi untuk sekadar bersilaturahmi? Namun, “aku” memaknai kedatangan tersebut secara berbeda, selain terdapat nada menyindir, “aku” juga mempertanyakan kedatangannya. Seperti yang ditunjukkan dalam larik-larik selanjutnya.

Larik kedua dan ketiga, “sebagai pelukan badut ulang tahun / sebagai ciuman nenek di dahi?” Sebagai pelukan badut ulang tahun terasa seperti mengejek “kau”, untuk apa badut ada di sebuah acara ulang tahun? Untuk memeriahkan acara? Untuk memberi selamat? Untuk menghibur? Atau hanya sebagai penggembira? Bisa jadi semuanya. Sementara larik selanjutnya membuat saya bertanya-tanya, apa arti ciuman seorang nenek? Sebagai bentuk kasih sayang antara keluarga? 

Dalam larik berikutnya terlihat kemungkinan lain, “atau sebagai bujang latah yang datang menawarkan perundingan; / pergunjingan tentang jejak cincin pertunangan di sela jari”. Menurut saya, ada banyak makna dan rasa dalam larik ini, selain terasa meremehkan dan menyindir, larik tersebut juga menegaskan kandasnya hubungan yang pernah ada. Namun, jika anggapan saya bahwa “aku” dan “kau” telah menjadi tua dan hubungan tersebut lama berakhir, mengapa baru sekarang “kau” datang kembali? Kedatangan kembali dan keterlambatan “kau” tersebut dapat semakin menguatkan nada sindiran dalam larik ini.

Pilihan kata seperti “bujang latah” juga menambahkan nada sindiran dalam larik tersebut. Latah bermakna meniru perbuatan orang lain atau mengikuti tingkah laku seseorang. Jadi, barangkali telah banyak orang yang datang untuk menawarkan sebuah ikatan kepada “aku” dan karenanya “kau” hanya terkesan sekadar ikut-ikutan.

Apakah “kau” ingin memulai kembali atau memperbaiki hubungan lama tersebut tidak dijelaskan, tetapi barangkali akan terdapat “perundingan” kembali, pembahasan lagi mengenai “jejak cincin pertunangan di sela jari”. Kata-kata jejak cincin pertunangan di sela jari tentu bermakna hubungan yang pernah terjalin dan kegagalan yang sudah terjadi.

Bila dibuat gambar utuh, puisi ini bercerita mengenai seorang wanita dan pria yang telah lama berpisah dan di hari tuanya sang pria datang kembali. Tidak dijelaskan mengapa mereka berpisah, tetapi ada nada tak suka atau benci yang bisa dirasakan “aku” pada “kau”. 

Namun, sebenarnya aku juga memikirkan kemungkinan lain. Saya tidak tahu apakah fakta ini penting, tetapi penulis puisi merupakan kelahiran Sungai Naniang, Sumatera Barat. Sebagai orang Padang, saya sedikit mengetahui bahwa ada hubungan yang terjalin karena adanya perjodohan. Perjodohan tersebut biasanya dirundingkan oleh orang yang dihormati dalam keluarga sebagai perwakilan. 

Saya berpikir, mungkin tidak ya, jika larik di bait pertama, “jejak pertemuan kita melekat pada kerut sebuah bibir tua / di celahnya, gusi tumpul sudah lama tak bergigi / juga lidah yang telah menggetarkan tak berhingga kata-kata” sebenarnya dimaksudkan untuk para tetua tersebut dan bukannya “aku”? Karena orang yang dihormati tersebut bisa saja berusia sudah lanjut, tidak lagi bergigi, dan tentunya sudah banyak kata atau kalimat yang diucapkan. Jika demikian, “aku” dan “kau” bisa jadi tidaklah setua seperti yang sebelumnya disampaikan dan hubungan itu barangkali belum lama berakhir.

Meski begitu, gambaran bahwa hubungan tersebut berakhir pada suatu masa dan salah satu pihak datang kembali—walau entah dengan tujuan apa—dalam puisi menurut saya masih sesuai. Begitu pun dengan ketidaksukaan “aku” saat “kau” hadir lagi. Gambaran tersebut dapat terlihat dalam larik-larik serta judul puisi. 

Selain itu, jika ini sebuah perjodohan, larik “atau sebagai bujang latah yang datang menawarkan perundingan; / pergunjingan tentang jejak cincin pertunangan di sela jari” bisa bermakna lebih. Perundingan tersebut dapat bermakna bahwa “kau” datang di hari raya untuk mengajukan kembali lamaran kepada “aku”. 

Nah, begitu saja dari saya, barangkali tidak seratus persen tepat, semoga penulis puisi ini juga berkenan dan tidak marah atau tersinggung dengan pembahasan yang dibuat (hhe). Selain itu, mari merayakan bahwa kita telah berpuisi hari ini! Selamat berpuisi! (Z)


*Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Lima Puluh Koto, Minangkabau, Sumatera Barat. Peneliti di Kelompok Kajian Magistra Indonesia, Padang. Buku puisinya: Air Tulang Ibu (Pusakata Publishing, 2012).

Foto: abcnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar