Minggu, 23 Oktober 2016

Resensi Buku: P.S. I Still Love You



Judul: P.S. I Still Love You
Penulis: Jenny Han
Penerbit: Penerbit Spring
Halaman: 356
Harga: Rp77.000
Terbit: September 2015



Pernah terpikir surat yang Anda buat menimbulkan masalah? Kejadian tersebutlah yang menimpa Lara Jean. Walau kalimat tersebut rasanya lebih cocok dijadikan pembukaan untuk buku pertamanya (To All The Boys I’ve Loved Before), kejadian yang dimaksud kalimat tersebut masih terhubung dengan buku keduanya, yakni P.S. I Still Love You

Buku ini hadir dengan tokoh utama bernama Lara Jean, seorang gadis keturunan Korea yang sudah lama tinggal di Amerika Serikat. Sebenarnya, aku belum membaca buku pertamanya. Tanpa bermaksud membaca secara acak, buku yang kubeli ternyata salah cetak atau entah apa pun penyebabnya, sehingga dari luar merupakan sampul To All The Boys I’ve Loved Before, tetapi dalamnya merupakan cerita utuh seri kedua. Terbayang ‘kan bingungnya saat membaca buku ini? Hhe. Aku harus menebak-nebak konflik dan drama yang ada di buku pertama akibat surat yang seharusnya tidak dikirimkan tersebut.

Kembali ke buku, karena aku sudah baca, aku tetap berkeinginan membagi ulasannya, aku harap tidak ada pemahaman yang salah ya, hhe. Cerita dimulai dengan suasana libur Natal dan Lara Jean yang ternyata masih bertengkar dengan Peter. Mereka tidak lama diperlihatkan bermusuhan karena setelahnya mereka pun berbaikan dan kali ini menjadi pasangan.

Jika di buku pertama surat yang menjadi topik utama (begitu yang kutangkap dari sinopsisnya), di buku ini videolah yang menjadi sumber masalah. Video apa? Video tersebut barangkali merupakan hal yang biasa di Amerika, tetapi pasti akan sangat heboh kalau terjadi di Indonesia. Namun, ternyata video ini cukup memiliki dampak juga bagi Lara Jean dan Peter, lebih kepada teman-teman mereka yang menjadikannya sebagai bahan ejekan.
Selain video, ada juga masalah mengenai persahabatan dan sedikit kisah cinta segitiga. Secara keseluruhan, buku ini terasa sangat remaja dengan konflik yang mungkin memang akan terjadi di usia mereka. Aku membaca buku ini (buku yang pertama sebenarnya) dengan harapan dapat sedikit meringankan pikiran setelah membaca buku dengan tema yang berat dan menurutku buku ini bisa dijadikan salah satu pilihan. 

Tidak ada konflik yang terlalu besar—kasus video tersebut barangkali memang besar bagi Lara Jean—hanya percintaan dan konflik remaja. Karena aku tidak membaca buku pertama, aku tidak terlalu tahu bagaimana hubungan Peter dan Lara Jean, tapi menjelang pertengahan bab, aku merasa sedikit bosan dengan hubungan mereka, hhe. Aku justru berharap Lara Jean bisa berakhir dengan John yang juga merupakan teman sepermainan Lara Jean dan Peter.

John lebih dewasa dan cerdas, aku mendapat kesan dia seperti karakter kutu buku yang berkembang menjadi seseorang yang keren tanpa bersikap sok jagoan. Sementara Peter digambarkan sebagai cowok yang hebat dalam olahraga, terkenal, dan banyak disukai para perempuan. Namun, Peter untungnya bukan anak nakal yang suka cari masalah, dia masih anak baik-baik dan sepertinya cukup bertanggung jawab. 

Beberapa bagian juga rasanya ingin aku skip, seperti cerita Lara Jean yang membantu di panti jompo, walau akhirnya cerita tersebut menyimpan kejutan juga. Sementara bagian yang paling aku suka, ialah karakter Kitty, adik Lara Jean yang masih berusia sekitar 10 tahun, serta interaksi Lara Jean dengan keluarganya, terutama dia, adik, serta kakaknya (yang ketiganya perempuan). Kitty dengan kepolosan dan kejujurannya dalam menyampaikan sesuatu, menjadi bagaian yang lucu dan menarik untuk dibaca.

Terakhir, buku ini masih menyenangkan untuk dinikmati, terlebih rangkaian kalimatnya mudah diikuti. Salah satu yang akan membuat tidak nyaman saat membaca buku ini barangkali tampilan halamannya dengan batas margin yang terlalu kecil. Namun, karena spasi antarparagraf masih cukup lebar, buku ini masih bisa dibaca dengan baik dan tidak membuat mata cepat lelah. (Z)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar