Minggu, 11 Januari 2015

Kicauan: Van Gogh dalam Doctor Who



Ini seperti impian yang menjadi kenyataan. Seperti obat yang menyembuhkan luka atau bagai gelar juara setelah semua perjuangan. Sekalipun itu hanya sesaat, sebuah impian yang akhirnya bisa diwujudkan memiliki arti lebih dari apa pun.

Barangkali seperti itulah yang dirasakan oleh Van gogh jika dia bisa pergi ke masa depan dan melampaui waktu. Seperti yang sudah banyak orang tahu, selama hidupnya pelukis aliran post-impressionist, Vincent van Gogh tidak pernah mendapat pengakuan atas karya-karyanya. Selama hidup dan sejarah berkaryanya, hanya ada satu lukisan Van Gogh yang terjual, yaitu The Red Vineyard. Lukisan tersebut terjual beberapa bulan sebelum kematiannya. Itulah satu-satunya apresiasi yang pernah ia terima terhadap karya-karya yang telah dia buat. Van Gogh bisa dibilang tak menghasilkan banyak materi dari profesi yang dipilihnya (adiknya, Theo van Gogh yang membiayai hidupnya). Namun, Van Gogh terus melukis. Dia tidak pernah tahu bahwa kini karyanya dipuji dan diakui, lukisannya dipajang di tempat-tempat terkenal, karyanya begitu dihargai, dan dia guru bagi banyak pelukis. 




Kenyataan bahwa Van Gogh tak pernah mengetahui dan menyadari betapa dihargainya lukisan yang dia buat sepertinya menjadi ide utama seri lepas Doctor Who, Vincent and The Doctor. Doctor Who merupakan serial science-fiction asal Inggris yang menceritakan The Doctor dan companion-nya dalam bertualang menghadapi para musuh.

Saya sendiri belum menonton secara utuh serial ini, hanya serial lepasnya seperti yang satu ini. The Doctor merupakan alien bertubuh layaknya manusia yang abadi dengan bergenerasi (mereka tidak mati, tapi terlahir kembali dengan wajah dan karakter yang berbeda). Sementara companion-nya biasanya manusia dan beberapa seri terakhir umumnya perempuan. Mereka bertualang dengan mesin waktu yang disebut TARDIS (Time and Relative Dimension in Space, bentuknya seperti police box di Inggris) untuk menghadapi musuh-musuh yang mengancam keberlangsungan kehidupan manusia di bumi. Hingga kini tokoh the Doctor telah terlahir kembali sebanyak dua belas kali. Sementara di seri lepas ini, menceritakan Eleventh Doctor (Matt Smith) dan companion-nya Amy Pond (Karren Gillan).

Singkat cerita, suatu hari Doctor dan Amy, pergi ke museum Musée d'Orsay di Paris dan mereka melihat pameran lukisan Van Gogh. Saat melihat lukisan The Church at Auvers, Doctor menyadari ada suatu yang aneh dalam lukisan tersebut. Sebuah makhluk mengintip di balik jendela gereja yang dilukis oleh Van Gogh. Saat cerita berlanjut, kita tahu makhluk itu bernama Krafayis.
 

Doctor dan Amy pun pergi ke masa lalu, tepat satu bulan sebelum Van Gogh meninggal untuk mencari tahu tentang makhluk itu dan mengembalikan dia ke asalnya. Mereka berkenalan dengan Van Gogh dan bekerja sama menghadapi Krafayis yang ternyata hanya bisa dilihat oleh sang pelukis. Katanya, di mata makhluk itu sama sekali tak ada kasih sayang.

Saat mereka hampir berhasil mengalahkan Krafayis, the Doctor menyadari satu hal: Krafayis tidak bisa melihat. Itulah sebabnya dia menyerang tanpa memakan korbannya dan itu juga sebabnya dia tinggalkan oleh kawanannya. Saat Krafayis akhirnya mati, Van Gogh menyadari bahwa mata Krafayis bukannya tak ada kasih sayang, melainkan karena dia tak bisa melihat.




Menjelang akhir cerita, setelah Doctor dan Amy berpamitan pulang, Doctor memiliki sebuah ide. Dia memanggil Van Gogh dan menyuruhnya bersiap-siap. Mereka menuju TARDIS dan Doctor membawa Van Gogh pergi melintasi waktu. Mereka tiba di Musée d'Orsay pada tahun 2010. Doctor dan Amy mengajak Van Gogh yang masih kebingungan melihat sekitarnya untuk masuk. Van Gogh semakin kebingungan saat dia mulai memasuki tempat lukisan-lukisannya dipajang.
 


Semakin dalam memasuki museum, Van Gogh mulai menyadari di mana dia berada. Terlebih saat Doctor menanyai seorang kurator, Dr. Black mengenai tempat Vincent van Gogh di dalam sejarah kesenian. Sang kurator menjawab bahwa Vincent van Gogh adalah salah satu pelukis terbaik yang pernah ada dan bahkan salah satu manusia paling hebat yang pernah hidup. Van Gogh yang berdiri tak jauh dari mereka dan mendengar semua yang dikatakan oleh Dr. Black pun menangis.




Seri lepas sepanjang 46 menit ini, menunjukkan pada penonton masa-masa sulit dalam hidup Van Gogh, bagaimana tidak diterimanya ia di masyarakat kala itu, kekurangan dana untuk hidupnya sehari-hari, ataupun karyanya yang tak diakui. Namun, seri ini juga menunjukkan bagaimana tingginya semangat Van Gogh untuk melukis atau pandangannya yang ajaib tentang warna dan seluruh alam semesta.

Rasanya luar biasa terharu melihat Van Gogh bisa mengetahui bahwa karyanya kini diakui dan dipuji. Ide cerita untuk membawa Van Gogh ke masa depan benar-benar di luar dugaan, terasa sangat emosional, tapi luar biasa keren. Karena sekalipun ini hanya kisah fiktif, tapi jika sekali saja Van Gogh bisa mengetahui masa depan dirinya, rasanya sebuah hal yang patut disyukuri.

Bagi siapa pun yang memiliki impian, tentu tahu bagaimana sulitnya untuk menjadikan impian menjadi kenyataan. Saat kita sudah memberikan segala yang kita bisa, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan, apa yang akan kita rasakan? Kita mungkin akan sedih hingga ingin menyerah. Namun, Van Gogh tidak menyerah bahkan di saat orang-orang tak pernah mengakui karyanya. Dia tahu apa yang menjadi tujuan dan kebahagiaannya. Tak peduli apa yang dikatakan orang atau betapa menyedihkannya hidupnya, tak sekalipun dia berpikir untuk menyerah. Dia mungkin menyadari bahwa melukis adalah impian, masa depan, dan hidupnya, tak peduli berapa banyak materi yang dia hasilkan.

Karena itu, saat melihat Van Gogh dalam Doctor Who, saya benar-benar berharap Vincent van Gogh yang sebenarnyalah yang mengunjungi pameran itu. Dia sangat layak untuk mengetahuinya. Dia telah menghabiskan hidup untuk impiannya, tapi dia meninggal tanpa pernah merasakan hasil perjuangannya. Dia berhasil tanpa pernah dia ketahui ataupun sadari. Namun, seri lepas ini juga mengingatkan kita, sekalipun Van Gogh telah meninggal, karyanya abadi dan menjadi bukti bahwa dia telah mewujudkan impiannya. Jauh di belahan dunia yang lain, dia pasti melihatnya. Melihat bahwa kini orang-orang dapat memahami dan menerima karya dan pandangannya. Akhirnya, orang-orang menyadari bahwa yang dikerjakannya selama ini ialah sebuah masterpiece. Seperti dikutip dari laman vangoghgallery.com adiknya, Theo mengatakan kepada saudaranya, Elizabeth bahwa hanya masalah waktu hingga orang-orang akan menyadari (bahwa Vincent van Gogh adalah seorang seniman yang hebat) dan menyesali kematiannya yang begitu cepat.

Pada akhirnya, untuk saya sendiri, seri lepas ini tak hanya tentang Van Gogh, tapi juga tentang kehidupan. Dalam hidup, akan selalu ada impian dan harapan, tapi akan ada juga rasa sakit dan kegagalan. Namun, yang paling lama bertahanlah yang akan menjadi pemenang.



Ayo kita sapa the Doctor (Matt Smith) dan companion-nya Amy Pond (Karen Gillan)! Karen menemani the Doctor untuk menjelajah waktu dari seri lima hingga pertengahan seri tujuh serial legendaris ini. Sementara Matt, kini digantikan Peter Capaldi sebagai Twelfth Doctor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar