Jumat, 30 Januari 2015

Resensi Buku: Girls in The Dark


Judul: Girls in The Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 283 hlm.
Harga: Rp52.000
Terbit: Mei 2014


Kisah Girls in the Dark dimulai dan diuraikan dengan cara yang unik. Secara keseluruhan buku ini berkisah tentang seorang gadis cantik dan kaya bernama Shiraishi Itsumi, Ketua Klub Sastra di SMA Putri Santa Maria yang ditemukan meninggal. Dia jatuh dari ketinggian dengan tangannya menggenggam bunga lili. Berita kematiannya tersebar diduga karena bunuh diri, tapi tak ada satu pun orang yang boleh menghadiri pemakamannya. Intinya, tak ada orang yang bisa melihat jasadnya setelah hari dia ditemukan jatuh dari ketinggian.

Untuk mengenangnya, anggota Klub Sastra mendedikasikan malam yami-nabe (sebuah acara yang pesertanya diharuskan membawa bahan makanan dan dirahasiakan dari yang lain) untuk Itsumi. Yami-nabe diselenggarakan dalam kegelapan atau dengan sedikit sumber cahaya sehingga tak seorang pun dapat melihat bahan masakan yang dimasak. Yami-nabe dalam buku ini tak hanya memasak dan makan bersama, tetapi juga sambil mendengarkan cerita yang dibuat oleh anggota dan dibacakan secara bergantian. Malam itu, cerita yang dibuat khusus berkisah mengenai kematian Itsumi.

Dari kegiatan inilah kita dapat mengetahui asal judul buku karena semua anggota Klub Sastra adalah perempuan yang kini berjumlah enam orang dan mereka bersama dalam kegelapan. Barangkali juga judul buku ini merupakan kiasan terhadap karakter semua tokoh yang terkesan gelap dan penuh rahasia.

Kembali lagi pada cara penyampaian kisah dalam buku ini, buku ini dimulai dengan pidato pembukaan oleh Wakil Ketua Klub Sastra, Sumikawa Sayuri. Berbeda dengan buku kebanyakan, buku ini dibuat seolah-olah kita adalah salah satu penonton dalam acara yami-nabe tersebut. Kita seolah-olah mendengar Sayuri berpidato lalu dia mengatur urutan pembaca cerita. Kisah per bab pun berlanjut dengan cerita yang dibuat oleh tiap anggota. Cerita yang saling berhubungan meskipun bertolak belakang.

Cerita yang dimaksud bukanlah karya fiksi, melainkan sebuah cerita yang berdasarkan kenyataan yang mereka ketahui mengenai kematian Itsumi. Karena cerita yang mereka buat malam itu mengenai kematian Itsumi, tiap anggota pada akhirnya mengerucutkan tersangka dan mengarahkan tuduhan pada salah satu anggota. Tentunya semua tuduhan itu dibuat dengan asumsi dan kesimpulan yang belum tentu benar, bahkan mungkin juga sebuah kebohongan. Ini juga karena penulis tidak menyajikan tiap cerita agar pembaca mengetahui siapa pelaku sesungguhnya, bahkan pembaca tetap tidak akan bisa mengetahui pelaku yang sebenarnya hingga cerita dari semua anggota dibacakan.

Yang menarik adalah kaitan semua cerita tersebut dengan bunga lili yang digenggam Itsumi saat kematiannya. Mereka semua menganggap bunga itu merupakan sebuah pesan yang menunjukkan siapa pelaku pembunuhan. Tiap anggota mengaitkan pembunuhnya dengan bunga lili dan uniknya semua anggota bisa dihubungkan dengan bunga tersebut. Semua itu membuat tiap anggota dapat dicurigai sebagai pelaku.

Semua fakta dan hubungan Itsumi dengan tiap karakter dalam buku ini dapat pembaca ketahui secara tidak langsung melalui cerita-cerita yang dibuat oleh anggota. Hingga pada akhirnya, rahasia di baik semua misteri pun diungkap disampaikan melalui “cerita” dan pidato langsung Sayuri kepada anggota yang lain.

Rahasia di balik misteri kematian Itsumi jauh lebih mengejutkan daripada asumsi yang dibuat oleh tiap anggota. Akhir buku ini bahkan lebih mengerikan daripada yang saya bayangkan. Sangat mengejutkan dan sejujurnya saya berpikir cerita ini tak perlu berakhir dengan tragis seperti itu, tapi mungkin jika akhir cerita tidak dibuat demikian kisah dalam buku ini akan menjadi antiklimaks dan tentunya menjadi tidak menarik.

Secara keseluruhan ide cerita dan cara penyampaian dalam buku sangatlah menarik, hanya gaya bahasa penulis yang terasa berbeda bagi saya. Sama sekali tidak buruk, saya sendiri menganggap gaya bahasa dalam buku ini adalah gaya bahasa penulis Jepang. Entah kenapa, saat saya membaca buku ini, saya menganggap seperti inilah gaya bahasa seorang penulis asal Jepang walau mungkin tak semua penulis Jepang memiliki gaya bahasa seperti ini. Barangkali juga karena cerita dalam buku ini dibuat dengan narasi yang berupa pernyataan langsung dari karakternya sehingga terasa seolah-olah kita mendengar orang Jepang sedang berbicara.

Singkatnya, buku ini memiliki unsur kejutan dan misteri yang menarik untuk dibaca. Buku ini bisa menjadi penghibur saat kita merasa bosan dengan tema buku yang itu-itu saja. Apalagi untuk para pecinta budaya Jepang, membaca karya sastra asal Jepang mungkin adalah hal yang biasa dilakukan. Nah, tak ada salahnya membaca buku yang satu ini. Selamat membaca!


Foto: penerbitharu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar