Rabu, 29 Oktober 2014

Resensi Buku: Samudra di Ujung Jalan Setapak (The Ocean at The End of The Lane)




Judul: Samudra di Ujung Jalan Setapak (The Ocean at The End of The Lane)
Penulis: Neil Gaiman 
Tebal : 264 halaman
Terbit : Agustus 2013
Harga : Rp50.000
Kategori : Fantasi, Novel Terjemahan, Novel, Fiksi dan Sastra


Ini buku Neil Gaiman pertama yang kubaca. Aku tahu buku ini dari resensi di web penerbit Gramedia. Sebelumnya, aku bahkan belum pernah mendengar namanya. Setelah membaca buku ini, aku semakin menyadari bahwa kesan semua orang terhadap sesuatu hal belum tentu sama.

Resensi terhadap buku ini sudah banyak dibuat dan tentunya aku bukan yang pertama. Namun, seperti yang kubilang, kesan kami belum tentu sama. Aku setuju bahwa buku ini bagus, terutama gaya penceritaannya, bagaimana Neil Gaiman menuliskan tiap kalimatnya sanggup membuat kita membaca hingga akhir buku ini. Hanya saja, genre buku seperti ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam bagiku.

Bukannya tidak suka dengan genre fantasi, tapi sepertinya tidak semua genre fantasi aku suka. Terutama untuk sesuatu yang rasanya terlalu mustahil. Itulah bedanya kita dengan anak kecil ya. Kalau aku membaca buku-buku seperti ini sejak kecil, aku mungkin akan percaya bahwa memang Ursula Monkton (tokoh dalam buku) itu nyata.

Kembali ke buku, The Ocean at The End of The Lane atau Samudra di Ujung Jalan Setapak—aku suka judul bukunya, judulnya membangkitkan imajinasi—merupakan buku fantasi tentang dunia dan makhluk lain yang ada di sekitar kita.

Bermula dari seorang pria, si “Aku”
(dalam buku, hanya satu kali penulis menyebutkan nama tokoh si "Aku", yaitu George), yang kembali ke rumah lamanya dan mengulang kenangan masa kecil yang pernah terjadi. Kenangannya saat bertemu dan berhadapan dengan monster dari dunia lain.

Ada yang menarik dengan gambaran makhluk dunia lain dalam buku ini. Gambarannya berbeda dengan buku atau dongeng-dongeng yang lain. Di sini, aku mendapatkan definisi baru tentang makhluk dunia lain.

Dalam menghadapi para makhluk tersebut, si “Aku”  yang digambarkan hanya seorang anak kecil biasa, kutu buku, dan penakut, selalu dibantu oleh keluarga Hempstock, bahkan memang merekalah yang menyelesaikan segala masalah.

Aku sangat menyukai karakter-karakter keluarga Hempstock, terutama Lettie, anggota termuda dalam keluarga itu dan teman si “Aku”. Aku juga menyukai setiap ide yang berkaitan tentang “kemampuan” mereka. Hanya saja, ada pertanyaan yang bagiku belum terjawab dan memang tak ‘kan pernah terjawab mengenai asal usul keluarga ini yang sangat sedikit diceritakan.

Buku ini pasti akan lebih menarik kalau asal usul mereka dijelaskan, juga tentang Samudra, dan dunia lain versi Neil Gaiman dalam buku ini. Aku merasa kurangnya kesan tehadap buku ini justru karena masih banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Meski begitu, aku tetap menyukai keluarga Hempstock. Lagipula, ini buku fantasi, aku hanya perlu memainkan imajinasi.

Mendekati klimaks cerita, tiap bab yang tersisa terasa sangat menegangkan. Itulah sebabnya kubilang buku ini bagus. Sekalipun sulit percaya ada monster seperti dalam buku ini, konflik yang semakin mengerecut dan mendalam membuatku menantikan akhir cerita dengan tegang. Akhirnya, Neil Gaiman menyajikan akhir cerita yang sangat di luar dugaan dan sejujurnya aku sedih. Tiba-tiba, aku merasa "kehilangan"
 
Untuk yang sudah baca buku ini, rasanya aku ingin berdiskusi tentang bagian akhirnya (ada bagian yang tampaknya, penulis ingin pembaca simpulkan sendiri). Aku punya beberapa tabakan dan aku ingin memastikannya. Untuk yang belum baca, silakan baca karena buku ini bagus, tapi yang tak terlalu suka fantasi, dongeng, atau fabel seperti ini bisa spoiler dulu biar tidak menyesal.


Qoute

“Biar bagaimanapun, buku-buku lebih aman daripada manusia.” (hlm. 18)

“Orang dewasa mengikuti jalan yang sudah ada. Anak-anak menjelajah. Orang dewasa puas menempuh jalur yang itu-itu saja, ratusan kali, atau ribuan; barangkali orang dewasa tidak pernah terpikir untuk menyimpang dari jalan yang telah ada, menyelusup ke bawah semak-semak rhododendrom, mencari celah-celah di sela pagar.” (hlm.85)


““Aku ingin bilang sesuatu yang penting padamu. Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. Di dalam, mereka tampak seperti diri mereka yang dulu. Seperti waktu mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya, tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.”” (hlm. 164)


“Aku tidak merindukan masa kanak-kanak, tapi aku merindukan betapa aku bisa merasakan kesenangan dalam hal-hal kecil, bahkan ketika hal-hal yang lebih besar bertumbangan. Aku tak bisa mengendalikan dunia tempatku berada, juga tak bisa menghindar dari hal-hal, atau orang-orang, atau saat-saat menyakitkan, tetapi aku menemukan suka cita dalam hal-hal yang membuatku bahagia.” (hlm. 216)


““Hal yang kauingat? Barangkali. Kurang-lebih. Beda-beda orang, beda-beda ingatannya; tidak ada dua orang yang mengingat hal-hal yang sama persis, entah mereka mengalaminya atau tidak. Walaupun dua orang berdiri bersebelahan, ingatan mereka bisa berpulau-pulau jauhnya.”” (hlm.250)


Foto: gramediapustakautama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar