Kamis, 06 Februari 2014

Resensi Buku: Berjalan di Atas Cahaya (Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa)



Judul: Berjalan di Atas Cahaya (Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa)

Penulis: Hanum Salsabiela Rais, dkk.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 224 halaman

Terbit: Maret 2013

Harga: Rp50.000,-



Untuk mereka yang terus berjalan di atas cahaya...

Begitulah buku ini dipersembahkan oleh penulis. Sebuah buku yang tampaknya hadir untuk memberi semangat kepada semua muslim dan muslimah untuk tidak berhenti mencari cahaya dan berjalan di atasnya.

Buku ini berisi kisah perjalanan penulis selama di Eropa. Ada tiga penulis, satu penulis utama, yaitu Hanum Salsabiela Rais dan dua penulis kontributor, Tutie Amaliah serta Wardatul Ula. Hampir sebagian besar kisah ditulis oleh Hanum (11 kisah beserta prolog dan epilog), sementara Tutie Amaliah 6 kisah, dan Wardatul Ula 2 kisah.

Kisah dimulai dengan pengalaman penulis (Hanum) dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang reporter di televisi swasta. Saat itu dia ditugaskan untuk mencari dan meliput kisah orang-orang muslim di Eropa. Rencananya, kisah ini akan ditayangkan pada saat bulan Ramadhan. Dalam kisah ini, penulis menunjukkan betapa dalam kesulitan selalu ada kemudahan. Sebuah kemudahan yang diberikan oleh sesama manusia di belahan bumi mana pun.

Cerita orang-orang muslim atau bukan muslim, orang Indonesia atau orang asing, mualaf atau Islam dari lahir, hadir silih berganti mengisi tiap lembar buku ini. Satu hal yang menjadi persamaan dalam buku ini ialah kisah yang dituturkan selalu menyampaikan Islam secara positif. Tentu, bukankah buku ini memang hadir untuk menyajikan kisah-kisah islami yang teduh dan cinta terhadap sesama?

Ada sosok Bunda Ikoy, seorang Aceh yang kini tinggal di desa Ipsach, Bern, Swiss dan telah menikah dengan warga setempat. Seorang wanita muda yang satu-satunya menjadi muslimah berkerudung yang bekerja di Swisswatch, sebuah pabrik penghasil jam tangan mahal di dunia. Bunda Ikoy menunjukkan bahwa jilbab, yang sering kali menjadi penghambat seorang muslimah untuk mendapatkan pekerjaan di Eropa, tidak menghalanginya untuk berkarya.

Lalu, ada sebuah kisah yang membuat pembaca, termasuk saya menelaah kembali cara kita menilai suatu masalah, “Fenomena Gajah Terbang”. Cerita ini menarik karena ditampilkan dengan sebuah analogi yang mungkin berasal dari negeri China (Xiao Wei, teman Hanum yang menceritakannya merupakan keturunan China).

Sebuah analogi yang membukakan mata bahwa terkadang penilaian terhadap sesuatu, entah itu baik atau buruk, barangkali hanyalah pemikiran yang ikut-ikutan saja dengan suara terbanyak. Bukan suatu pemikiran yang didasarkan oleh alasan yang benar-benar kita mengerti. Bukankah seperti itu sikap yang kebanyakan diambil oleh manusia dalam menilai suatu masalah?

Di antara sekian banyaknya kisah orang-orang yang disampaikan, ada sebuah cerita yang mengingatkan kita kembali pada buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Kisah itu adalah Tapak Kemuliaan di Sisilia. Mengapa begitu? Karena kisah ini seolah mengungkap misteri Islam di Eropa, sama dengan kesan yang kuat yang tertanam untuk buku 99 Cahaya di Langit Eropa.

Sebuah hal yang mungkin belum banyak diketahui dan disadari oleh banyak orang. Bagaimana manusia meyakini Tuhan Yang Satu di gereja katedral Palermo. Lagi-lagi manusia dihadapkan pada kenyataan kehebatan Tuhan yang hadir melalui manusia-manusia dan sejarah yang ada. Selama ini kita luput untuk benar- benar memahaminya.

Semua kisah dalam buku ini terasa sangat inspiratif. Meskipun tidak semua kisah meninggalkan kesan yang mendalam, secara keseluruhan buku ini merupakan media dakwah yang baik. Menyampaikan Islam melalui kisah-kisah yang menyentuh hati hasil pengalaman langsung penulis, membuat buku ini terasa sangat nyata.

Dengan penyampaian yang ringan, lugas, tapi makna mendalam. Namun, jangan khawatir tak sampai membuat pusing, hanya mungkin akan membuat kita kagum akan kebaikan hati orang-orang yang ditulis dalam buku ini. Namun, seperti yang tadi disampaikan, karena cerita buku ini ringan, butuh kisah yang sangat “menonjok” untuk dapat meninggalkan kesan yang mendalam.

Buku nonfiksi ini dapat digolongkan sebagai buku perjalanan (traveling) karena kisahnya tersebar di berbagai belahan dunia dan didominasi dengan pengalaman selama berada di tempat yang dikunjungi. Perbedaan terbesar buku ini dengan buku perjalanan yang lain (yang mungkin juga keunggulan buku ini) ialah bentuk pengalam yang dibagi.

Buku ini membagi pengalaman spiritual yang manfaatnya akan terasa seumur hidup. Bukan lagi tentang di mana dan apa yang harus dilihat, tapi bagaimana kita memaknai sebuah perjalanan dengan menyadari kekuasaan Tuhan di setiap langkah. Semua perjalanan, semua tempat tak pernah lepas dari kuasa Tuhan. Buku ini akan lebih terasa manfaatnya jika dibaca dengan hati, tak hanya mata, mulut, atau pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar